Oleh: putuyoga | September 7, 2007

Pura Besakih

Inilah asal mulanya ada Besakih, sebelum ada apa-apa hanya terdapat kayu-kayuan serta hutan belantara di tempat itu, demikian pula sebelum ada Segara Rupek (Selat Bali). Pulau Bali dan pulau Jawa dahulu masih menjadi satu dan belum dipisahkan oleh laut. Pulau itu panjang dan bernama Pulau Dawa. Di Jawa Timur yaitu di Gunung Rawang (sekarang dikenal dengan nama Gunung Raung) ada seorang Yogi atau pertapa yang bernama Resi Markandeya.

Beliau berasal dan Hindustan (India), oleh para pengiring-pengiringnya disebut Batara Giri Rawang karena kesucian rohani, kecakapan dan kebijaksanaannya (sakti sidhi ngucap). Pada mulanya Sang Yogi Markandeya bertapa di gunung Demulung, kemudian pindah ke gunung Hyang (konon gunung Hyang itu adalah DIYENG di Jawa Tengah yang berasal dan kata DI HYANG). Sekian lamanya beliau bertapa di sana, mendapat titah dari Hyang Widhi Wasa agar beliau dan para pengikutnya merabas hutan di pulau Dawa setelah selesai, agar tanah itu dibagi-bagikan kepada para pengikutnya.

Sang Yogi Markandeya melaksanakan titah itu dan segera berangkat ke arah timur bersama para pengiring-pengiringnya kurang lebih sejumlah 8000 orang. Setelah tiba di tempat yang dituju Sang Yogi Markandeya menyuruh semua para pengiringnya bekerja merabas hutan belantara, dilaksanakan sebagai mana mestinya.
Saat merabas hutan, banyak para pengiring
Sang Yogi Markandeya yang sakit, lalu mati dan ada juga yang mati dimakan binatang buas, karena tidak didahului dengan upacara yadnya (bebanten / sesaji)

Kemudian perabasan hutan dihentikan dan Sang Yogi Markandeya kembali lagi ke tempat pertapaannya semula (Konon ke gunung Raung di Jawa Timur. Selama beberapa waktu Sang Yogi Markandeya tinggal di gunung Raung. Pada suatu hari yang dipandang baik (Dewasa Ayu) beliau kembali ingin melanjutkan perabasan hutan itu untuk pembukaan daerah baru, disertai oleh para resi dan pertapa yang akan diajak bersama-sama memohon wara nugraha kehadapan Hyang Widhi Wasa bagi keberhasilan pekerjaan ini. Kali ini para pengiringnya berjumlah 4000 orang yang berasal dan Desa Age (penduduk di kaki gunung Raung) dengan membawa alat-alat pertanian selengkapnya termasuk bibit-bibit yang akan ditanam di hutan yang akan dirabas itu. Setelah tiba di tempat yang dituju, Sang Yogi Markandeya segera melakukan tapa yoga semadi bersama-sama para yogi lainnya dan mempersembahkan upakara yadnya, yaitu Dewa Yadnya dan Buta Yadnya. Setelah upacara itu selesai, para pengikutnya disuruh bekerja melanjutkan perabasan hutan tersebut, menebang pohon-pohonan dan lain-lainnya mulai dan selatan ke utara. Karena dipandang sudah cukup banyak hutan yang dirabas, maka berkat asung wara nugraha Hyang Widhi Wasa, Sang Yogi Markandeya memerintahkan agar perabasan hutan, itu dihentikan dan beliau mulai mengadakan pembagian-pembagian tanah untuk para pengikut-pengikutnya masing-masing dijadikan sawah, tegal dan perumahan.

Di tempat di mana dimulai perabasan hutan itu Sang Yogi Markandeya menanam kendi (payuk) berisi air, juga Pancadatu yaitu berupa logam emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai permata Mirah Adi (permata utama) dan upakara (bebanten / sesajen) selengkapnya diperciki tirta Pangentas (air suci). Tempat di mana sarana-sarana itu ditanam diberi nama BASUKI. Sejak saat itu para pengikut Sang Yogi Markandeya yang datang pada waktu-waktu berikutnya serta merabas hutan untuk pembukaan wilayah baru, tidak lagi ditimpa bencana sebagai mana yang pernah dialami dahulu. Demikianlah sedikit kutipan dari lontar Markandeya Purana tentang asal mula adanya desa dan pura Besakih yang seperti disebutkan terdahulu bernama Basuki dan dalam perkembangannya kemudian sampai hari ini bernama Besakih.

Mungkin berdasarkan pengalaman tersebut, dan juga berdasarkan apa yang tercantum dalam ajaran-ajaran agama Hindu tentang Panca Yadnya, sampai saat ini setiap kali umat Hindu akan membangun sesuatu bangunan baik rumah, warung, kantor-kantor sampai kepada pembangunan Pura, demikian pula memulai bekerja di sawah ataupun di perusahaan-perusahaan, terlebih dahulu mereka mengadakan upakara yadnya seperti Nasarin atau Mendem Dasar Bangunan. Setelah itu barulah pekerjaan dimulai, dengan pengharapan agar mendapatkan keberhasilan secara spiritual keagamaan Hindu di samping usaha-usaha yang dikerjakan dengan tenaga-tenaga fisik serta kecakapan atau keahlian yang mereka miliki. Selanjutnya memperhatikan isi lontar Markandeya Purana itu tadi dan dihubungkan pula dengan kenyataan-kenyataan yang dapat kita saksikan sehari-hari sampai saat ini tentang tata kehidupan masyarakat khususnya dalam hal pengaturan desa adat dan subak di persawahan. Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa Besakih adalah tempat pertama para leluhur kita yang pindah dari gunung Raung di Jawa Timur mula-mula membangun suatu desa dan lapangan pekerjaan khususnya dalam bidang pertanian dan peternakan. Demikian pula mengembangkan ajaran-ajaran agama Hindu.

Oleh: putuyoga | September 7, 2007

Bali Menuju ”Herbal Garden”

Bali yang telah terkenal dengan wisata keluhuran budaya serta keindahan alam, semestinya dapat dikembangkan menjadi pulau organik (organic island) maupun herbal garden mengingat kekayaan yang dimiliki, termasuk keberadaan tanaman obat dan lontar usada yang sangat terkenal.

Demikian terungkap dalam seminar Konservasi Tumbuhan Usada Bali dan peranannya dalam mendukung ekowisata, yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) UPT Balai Konservasi Tumbuhan di Kebun Raya Eka Karya Bedugul Kamis (6/9) kemarin.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Prof. Dr. Endang Sukara, dalam sambutannya menyatakan sebagai pulau yang kaya dan subur, Bali memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi pulau organik maupun sebagai taman herbal di dunia. Demikian pula ilmu pengobatan Bali yang terangkum dalam lontar usada merupakan pengetahuan tumbuhan obat yang sangat baik, yang dapat digunakan oleh masyarakat lokal maupun dijual pada masyarakat dunia. Hanya perlu dikombinasikan dengan penelitian dan pengetahuan ilmiah.

Namun sayangnya, Sukara menyoroti belum adanya target dan upaya hak paten serta promosi akan ramuan tradisional yang dapat dilemparkan kepada masyarakat dunia sebagai bentuk pengobatan alternatif.

Dalam seminar yang diikuti sekitar 100 peserta ini, empat makalah utama disajikan, baik dari LIPI, Unud, UNHI, dan UGM. Prof Dr. Jai Singh Yadav, profesor tamu dari UGM mengulas sistem pengobatan tradisional mengalami tantangan berat karena berhadapan dengan sistem pengobatan allophathy yang gencar dipromosikan oleh perusahan farmasi negara barat yang relatif miskin sumber daya nabati dan hayati.

Prof. Dr. Ngurah Nala menyampaikan diperkirakan terdapat sekitar 50 ribu lontar usada yang memuat 491 jenis tumbuhan obat di seantero Bali. Berbagai ulasan tanaman obat juga disampaikan oleh beberapa pemakalah lainnya seperti dr. I Made Maitriya, Ir Mustaid Siregar, Dr. IGP Suryadharma dan lainnya.

Oleh: putuyoga | September 7, 2007

MYSTIC IN BALI

LEAK BALI

Kalau udah bicara magic di Bali pasti langsung ingat dengan LEAK. Di film-film leak digambarkan sbg bentuk manusia yg bisa terbang dengan kepala terlepas dari tubuh. Ada juga yg menggambarkan berwajah seram dengan taring dan lidah yg panjang. Macam-macam deh deskripsi orang. Sebelum kita bicara apa itu leak, mari kita lihat magic secara umum (apa yg saya tahu setelah berdiskusi dengan orang-orang yg memahami hal ini). Magic ada 2 yaitu white magic dan black magic. White magic kebanyakan dipelajari untuk penyembuhan dan aktivitas yg bersifat kebaikan lainnya, seperti yg dipelajari oleh para balian (balinese traditional healer), para pendeta, dan para peminat kehidupan spiritual lainnya. Black magic sendiri tidak semuanya jahat. Ada 2 black magic yaitu black magic standard yg dipelajari orang hanya dipakai untuk sendiri, dan black magic yg dipakai untuk usil atau menjahili orang yg disebut aji ugig. Black magic standard umumnya dipelajari hanya untuk fun saja, tidak bertujuan mengganggu orang. Black magic aji ugig adalah magic yg dipakai untuk menyakiti orang, seperti berwujud pelet, teluh, cetik (racun), dll. Ini yg sering kita lihat di film-film dan dalam kenyataannya juga ada. Di Bali juga masih banyak kok yg beraliran aji ugig ini. Malahan jaman sekarang aji ugig adalah bisnis yg menguntungkan banget. Bak pulsa handphone, tersedia berbagai jenis pilihan produk (penyakit) dgn masa berlaku tertentu sesuai harga. Tentunya si pelanggan harus menyiapkan dana yg tidak sedikit, yah hitungannya tujuh digit-lah (jutaan). Kaya materi sih cepat, tapi api neraka udah siap menanti.

Saya sendiri tidak begitu paham apa leak itu sebenarnya. Yg saya pernah saksikan leak itu merupakan api. Tahun 1998 ketika ada pentas tari calonarang yg notabene sarat dgn muatan magic di Art Centre Denpasar oleh sanggar Gases Dps, ada show menarik ttg apa dan bagaimana leak itu oleh beberapa orang yg memiliki ilmu pengleakan. Saya lupa nama orangnya, saat itu ada 2 tokoh terkenal dalam dunia per-leak-an yg menunjukan kebolehannya. Tadinya saya mikir orang itu akan berubah wujud menjadi makhluk jadi-jadian, eh ternyata tidak. Orang yg satu berdiri dengan kepala ditutup kain putih. Sambil melafalkan mantra, tiba-tiba dari kepalanya muncul api yg membakar kain putih tsb. Orang yg satu lagi juga mengeluarkan api selesai melafalkan mantra, bukan dari kepala tapi dari mulut. Leak berwujud api juga saya pernah saksikan saat ada leak gathering (nanti saya tulis artikel tersendiri). Bentuknya yah bola-bola api gitu. Menurut opini saya, leak bisa dikategorikan sbg black magic standard yg pemakaiannya bukan bertujuan menyakiti manusia. Lalu bagaimana dengan cerita orang yg melihat wujud leak dalam berbagai rupa?. Itu tergantung pembawaan orang ybs. Di Bali dikenal istilah darah panas bagi yg tidak bisa melihat perubahan wujud ini sama sekali, dan darah nyem (dingin) bagi yg bisa melihat perubahan wujud tsb. Yg darah dingin juga ada yg melihat perubahan wujud leak menjadi sangat menyeramkan, ada juga yg melihat…yah wujud asli pelakunya. Kakak saya no 2 termasuk kategori melihat wujud asli pelaku, adik saya melihat wujud menyeramkan, dan saya tidak bisa melihat wujud leak sama sekali. Entahlah, sampai sekarang leak adalah fenomena mistis yg diyakini ada dan berkembang di Bali.

Source    : baliguide

Oleh: putuyoga | September 5, 2007

PM Malaysia Dihadiahi Ponsel Emas 24 karat

Jakarta – Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi dihadiahi ponsel berlapis emas murni 24 karat. Ia menerima perangkat tersebut dari sebuah perusahaan dalam rangka peringatan kemerdekaan ke-50 Malaysia.

Ponsel ini diproduksi dalam edisi terbatas, hanya sebanyak 5000 unit dan dibuat oleh Inobel, yang merupakan salah satu anak perusahaan UMR Group Malaysia. Mereka memberikan perangkat ini sepasang, untuk perdana menteri dan sang istri.

Dalam pernyataannya juru bicara UMW Group mengatakan, Perdana Menteri Abdullah Badawi menerima hadiah tersebut di kantornya di Putrajaya yang diserahkan langsung oleh chairman UMW Group Tan Sri Asmat Kamaludin.

“Kami merasa pemberian sepasang ponsel ini pantas dihadiahkan ke perdana manteri dan istrinya dalam rangka peringatan kemerdekaan ke-50 Malaysia,” tutur Tan Sri Asmat Kamaludin seperti dilansir Cellular News dan dikutip detikINET, Kamis(30/8/2007).

Kebanggaan dan prestasi yang telah diraih Malaysia sejauh ini terefleksikan dalam emas 24 karat yang ditautkan dalam ponsel tersebut sehingga ponsel ini terlihat kokoh, tandasnya. ( ash / wsh )

Sumber    : Detikinet

Kategori